Bukan tipe orang
yang terbiasa bikin resolusi awal tahun. Sehari-hari ya cuma dijalani, mengalir
begitu aja. Jadi merasa tertantang juga dikasih tema “Target yang Ingin Dicapai
2021” ini. Sebetulnya apa yang sedang aku kejar sekarang?
Aku masih
punya mimpi yang tertunda, yaitu melanjutkan kuliah. Dua kali apply beasiswa
LPDP dalam negeri, tapi masih belum rejeki. Yang kedua sudah sampai tahap
wawancara akhir. Saat itu pewawancara bilang, “oh belum pernah kerja? Ya udah cari
pengalaman dulu aja ya”. Langsung jatuh mentalku saat itu. Sebenarnya bisa aja aku jawab, saat ini belum
bisa bekerja karena harus mengurus anak berdua suami di perantauan yang jauh
dari orang tua maupun saudara. Saat itu anakku masih bayi, rencanaku mendaftar
kuliah untuk tahun ajaran 2020 karena menunggu agar anakku bisa mendapatkan full
ASI langsung selama dua tahun. Selain itu juga aku ingin bisa selalu
mendampinginya di 1000 hari pertama hidupnya. Tapi sayangnya saat itu aku gak
kepikiran jawaban apapun, pasrah. Sekarang mimpi kuliahku semakin jauh, justru
yang dipikirkan adalah bagaimana agar anakku mendapat pendidikan
sebaik-baiknya, bukan hanya asal sekolah.
Kalau ditanya
targetku di 2021 ini apa? Secara garis besar mungkin ada dua. Pertama,
bisa secepatnya melanjutkan pengobatan dengan psikiater hingga tuntas, sampai stabil. Memang
beberapa penyakit mental tidak bisa dikatakan 100% sembuh, tapi setidaknya jika
ditangani dengan baik, aku akan tahu bagaimana menghadapinya ketika berada di
kondisi tersulit. Bisa lebih terkontrol, tanpa harus terpicu jika ada penyebab
yang muncul. Saat ini pengobatanku tertunda karena baru pindah rumah, jadi jauh
dengan rumah sakit sebelumnya. Rencanaku memang mau ganti dokter dan pindah
rumah sakit sekalian. Tapi sampai sekarang belum menemukan jadwal dokter dan RS
yang cocok. Mengingat jika pergi ke RS yang jaraknya jauh, anakku harus ikut
denganku. Kalau dulu saat aku berobat, ia bisa ditinggal di rumah sementara
dengan ayahnya yang sedang Work From Home (WFH) karena RSnya sangat
dekat dengan rumah. Tapi kali ini jika anakku ditinggal untuk berobat ke RS
yang jauh, aku khawatir akan memakan waktu yang lama dan nantinya jadi
mengganggu pekerjaan suami.
Aku ingin bisa
lebih baik dari ini, ingin potensiku bisa berkembang seoptimal mungkin. Depresi
dan BPD membuatku kehilangan semangat menjalani hari-hari. Rasanya seperti
memakai topeng, seolah dipaksa untuk tampak normal. Padahal aslinya aku sedang
tidak baik-baik saja. Kasihan juga anakku, karena akan ikut terkena dampaknya
jika aku seperti ini terus.
Kedua,
aku ingin bisa bekerja di luar rumah. Lulus kuliah dulu aku tidak serius
mencari kerja karena memang rencana awalnya ingin kuliah lagi dengan beasiswa.
Ternyata beasiswa belum lolos, lalu ada yang dating melamar, menikah, punya anak.
Memang aku selalu coba ikut tes seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil setiap
tahunnya, tapi lagi-lagi belum juga lolos. Tantangan berat untukku yang
merupakan sarjana kehutanan, peluang yang lebih besar untuk lolos adalah dengan
memilih penempatan di daerah luar Pulau Jawa. Tapi selama tiga kali mencoba,
aku selalu mendaftar di kantor pusat (Jakarta) karena lagi-lagi memikirkan
anak. Kalau di daerah, nanti anak bagaimana? Pertimbangan sarana pendidikan dan
kesehatan di daerah apalagi yang dekat dengan Kawasan hutan tentu aksesnya
tidak semudah dan selengkap di kota. Belum lagi memikirkan pekerjaan suami yang
saat ini masih bergantung pada ibukota (meski kami tinggalnya di Bogor). Aku
gak ingin menjalani hubungan pernikahan jarak jauh, gak sanggup sih lebih tepat.
Tahun ini aku
tetap akan mencoba tes CPNS lagi, tapi jika belum lolos juga maka aku akan
serius mencari pekerjaan apapun. Sebelumnya aku hanya fokus dengan CPNS
lagi-lagi karena pertimbangan anak. Dulu sempat berencana ingin bekerja saat
anak sudah lepas ASI, ia dimasukkan ke daycare, tapi ternyata 2020 kita
menghadapi pandemi. Daycare tutup, jika menyewa pengasuh berarti harus
ditinggal berdua di rumah tanpa ada keluarga yang mengawasi, aku masih belum
tega. Belum lagi kalau pengasuhnya bolak-balik, tidak menginap, resiko bertemu
orang di luar banyak.
Kenapa mau
kerja? Supaya bisa financially independent. Gak selalu bergantung dengan
suami. Bisa ngasih ‘jatah bulanan’ ke orang tua pakai penghasilan sendiri. Supaya
bisa nabung, investasi, untuk masa depan nanti. Pendidikan anak, dana darurat,
dana pensiun, dll. Kalau cuma mengandalkan satu pintu pemasukan aja berat. Kenapa
gak coba bisnis? Udah pernah, tapi pernah tertipu sama pembeli, lalu jadi takut
buat nyoba lagi. Pun, nampaknya aku gak sekreatif itu, kalau berwirausaha harus
benar-benar memikirkan semuanya sendiri. Rasanya aku lebih nyaman dengan
pekerjaan yang sudah ada jobdescnya, apalagi yang jenjang karirnya
jelas. Untukku itu penting, aku gak ingin mengandalkan anak di masa tuaku kelak.
Sebelumnya pak
suami pernah bilang, “Pastikan dulu sebelum kerja, bunda benar-benar sudah siap
dengan segala tanggung jawab dan resikonya. Kerja bukan cuma dijadikan alasan buat
kabur sementara dari anak”. Iya pak, makanya mau dibenahi dulu kondisi
psikisku, supaya siap lahir-batin menghadapi dunia kerja nanti. Semoga bisa terlaksana tahun ini.